UMKM Sudah Capek Promosi, Tapi Produk Tetap Gak Laku? Ternyata Orang Bukan Cuma Beli Produk!
Sudah posting setiap hari, bikin video, kasih diskon, bahkan keluar uang untuk iklan. Tapi kenapa pembeli tetap sepi? Bisa jadi masalahnya bukan pada produk Anda, melainkan pada cara Anda membuat orang menginginkannya.
Produk Anda bagus. Website sudah dibuat. Tetapi saat calon pelanggan mencari di Google, yang muncul justru kompetitor.
Bayangkan Anda memiliki toko yang rapi, lengkap, dan menawarkan pelayanan terbaik. Sayangnya, toko itu berada di gang yang tidak diketahui orang. Tidak ada petunjuk arah. Tidak ada yang memberi tahu bahwa bisnis Anda ada di sana.
Begitulah website tanpa strategi SEO.
Website bisa terlihat menarik, tetapi belum tentu mudah ditemukan. Padahal, orang yang sedang mencari produk atau jasa bisa menjadi calon pelanggan Anda.
Di sinilah SEO yang dipadukan dengan Artificial Intelligence atau AI dapat membantu: memahami kebutuhan pencari, mengembangkan konten yang relevan, dan menemukan peluang perbaikan website.
Bayangkan Anda menyewa ruko untuk menjalankan usaha.
Anda mengeluarkan biaya untuk renovasi, memasang papan nama, dan melakukan promosi. Pelan-pelan, pelanggan mulai berdatangan. Usaha yang dirintis akhirnya ramai.
Namun, ketika masa sewa hampir habis, pemilik ruko menaikkan harga. Atau, kontraknya tidak diperpanjang.
Anda yang membangun usahanya. Anda yang mencari pelanggannya. Tetapi ketika aturan tempat berubah, Anda juga yang harus repot mencari lokasi baru.
Menjalankan bisnis hanya melalui media sosial dan marketplace memiliki risiko yang serupa. Read more
Penggunaan artificial intelligence atau AI semakin mudah diakses. Perusahaan dapat memanfaatkan AI untuk menjawab pertanyaan pelanggan, membuat konten, membaca dokumen, menganalisis data, membantu pemrograman, hingga menjalankan berbagai pekerjaan secara otomatis.
Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan baru:
Apakah semua pekerjaan harus menggunakan model AI paling canggih dan paling mahal?
Jawabannya adalah tidak.
Model AI terbaik bukan selalu model yang paling pintar atau paling mahal, melainkan model yang paling sesuai dengan tingkat kesulitan, risiko, dan nilai suatu pekerjaan.
Saat ini belajar melalui internet sudah menjadi sesuatu yang biasa. Sekolah, universitas, perusahaan, lembaga pelatihan, hingga instansi pemerintahan menggunakan Learning Management System (LMS) untuk menyampaikan materi, memberikan ujian, memantau perkembangan peserta, dan mengelola proses pembelajaran.
Beberapa tahun terakhir, Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat. Hampir setiap minggu muncul model AI baru, fitur baru, bahkan aplikasi baru yang menawarkan kemampuan yang semakin canggih.
Bersamaan dengan itu, muncul fenomena yang hampir selalu terjadi setiap kali ada teknologi baru.
Banyak orang langsung mencari jalan pintas.
"Prompt terbaik ChatGPT"
"100 Prompt AI yang Wajib Dimiliki"
"Prompt Rahasia"
"Copy Paste Prompt"
Seolah-olah keberhasilan menggunakan AI hanya bergantung pada satu kalimat ajaib.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Prompt yang hari ini dianggap paling ampuh, beberapa bulan lagi bisa saja sudah tidak relevan karena model AI terus berkembang.
Yang justru bertahan adalah kemampuan manusia dalam berpikir, menyusun kebutuhan, dan mengkomunikasikan maksudnya dengan jelas.
Itulah esensi sebenarnya dari Prompt Engineering.